Homeschooling VS Unschooling

Waaaa… tak disangka sudah hampir 3 bulan lebih saya absen dari blog saya… rasanya sedih, guilty, tapi tak sanggup kalau harus menulis blog saat sibuk dan sedang tidak mood.

Maafkan saya, saya sungguh tidak sanggup menulis blog selama ini, kalau sebagai blogger saya gagal total deh. Tapiiii, segala sesuatunya bukanlah vonis akhir. Menurut saya, bagaimana kita bisa bangun kembali dan memulai kembali, itu yang membuat kita semakin kuat di masa yang akan datang.

 

Homeschooling VS Unschooling

Ada dua ujung berbagai macam jenis homeschooling. Seperti dengan begitu banyaknya pilihan sekolah dan jenis-jenis sekolah, demikian pula homeschooling. Pada dasarnya ujung yang satu namanya school at home dan ujung yang satu lagi bernama unschooling. Keduanya adalah ekstrim yang saling bertolakkan. Berikut penjelasan berdasarkan pengertian saya dari berbagai sumber.

 

School at home, seperti namanya adalah sekolah di rumah, dimana anak-anak belajar baik dengan orang tua maupun guru atau tutor seperti di sekolah, tapi hanya pelaksanaannya di rumah. Orang tua juga dapat mengajarkan anak secara langsung dan umumnya menggunakan kurikulum yang sudah tersedia dan mengikutinya sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari kurikulum tersebut. Misalnya buku panduannya, latihan-latihan dan ada juga tes-tes yang sudah disediakan. Bagi orang tua ini aman, karena semua terstruktur, hanya perlu mengikuti petunjuk dan langkah-langkah yang telah disediakan oleh kurikulum yang dipilih orang tua. Ada banyak sekali pilihan kurikulum dari yang berbasis agama hingga yang tidak berbasis agama. Begitu banyak pilihan membuat saya pribadi sempat bingung untuk memilih, begitu pula saya yakin banyak orang pun kebingungan memilih kurikulum. Ini bukanlah awal yang baik menurut saya….

 

Ekstrim satu lagi adalah unschooling. Pada dasarnya anak-anak bebas menentukan pembelajaran mereka, orang tua pun bebas menjalankan homeschooling semau mereka. Saya pernah mendengar ada orang tua yang suka traveling, sehingga mereka bebas membawa anak-anak traveling kapanpun dan kemanapun tanpa memusingkan pelajaran. Secara gampang, anak-anak unschooling hanya hidup normal sehari-hari menjalankan kegiatan sehari-hari tanpa adanya pembelajaran secara tertulis atau tugas-tugas yang harus diselesaikan.

 

Nah, lalu ada yang ditengah-tengah antara school at home dan unschooling. Ada yang cenderung ke school at home, adapun yang cenderung ke unschooling. Oiya, adapun beberapa metode yang dipilih untuk dijalankan, seperti Thomas Jefferson, Charlotte Mason, Unit Studies, Waldorf, Montessori, Classical, Unschooling, Eclectic (campuran) dan banyak lagi, dengan berjalannya waktu semakin banyak juga berbagai macam metode.

 

Metode tersebut bisa saya sebut sebagai aliran, kemana orang tua lebih memilih atau apa yang menjadi pola dalam mendidik anak-anak mereka. Ada orang tua yang lebih suka pembelajaran Unit Study dimana pendidikan berdasarkan tema, proses belajar terintegrasi dan tidak terpecah-pecah menjadi beberapa mata pelajaran. Ada yang lebih memilih Charlotte Mason karena anak-anak belajar melalui pengalaman dunia nyata. Apapun pilihan metodenya, orang tua dapat bebas menentukan atau merubah pilihan metode mereka.

Semuanya tergantung pada orang tua yang telah dipercayakan untuk mendidik anak mereka masing-masing. Apa yang kami lakukan bukanlah sebuah bahan untuk diperdebatkan. Apa yang saya bagikan disini pun bukan ingin memicu perdebatan, tapi ingin membukakan pikiran anda mengenai homeschooling. Memberi informasi mengenai homeschooling. Jika dibandingkan dengan keluarga homeschooling lain, saya yakin ada banyak perbedaan dan mungkin juga ada banyak persamaan. Yang terpenting adalah kita menjalankan pilihan kita. Mengetahui konsekuensi dan menimbang sesuai dengan keadaan kita.

 

Kami memilih menjalankan homeschooling ditengah-tengah antara school at home dan unschooling, yang mungkin lebih cenderung ke unschooling. Waktu belajar kami tidaklah panjang. Jika saya melihat bagaimana keluarga di AS dapat menjalankan homeschooling sepanjang hari, saya jujur tidak sanggup. Terlebih lagi untuk anak saya yang pertama yang tidak mau menjalankannya. Sempat beberapa waktu yang lalu saya mencoba memberi istilah lain untuk homeschooling setelah jam makan siang. Karena dia tau bahwa dia harus belajar sebelum jam makan siang, tapi enggan belajar setelah jam makan siang. Saya rasa ini dikarenakan saya pun sejak awal mengajarnya hanya sebelum jam makan siang. Sebenarnya sebelum saya mulai mengajar 2 anak, saya berkali-kali sounding ke anak pertama, bahwa kita akan memperpanjang jam homeschool hingga sore jika kita tidak punya acara lain. Tapi ternyata pada pelaksanaannya dia tetap menolak dan sulit sekali memaksakannya. Nah, oleh sebab itu, saya sempat memasukkan e-learning melalui video youtube dan independent reading time. Kedua hal ini berlangsung beberapa hari, tapi masih kurang teratur untuk menjadi sebuah kebiasaan. Sering kali kamipun tidak menjalankannya karena kesibukkan kami atau kecapekan kami. Akhirnya anak-anak kami biarkan berkeliaran dan bermain-main saja. Tapi saya percaya meskipun mereka banyak menghabiskan waktu dengan bermain, mereka justru tidak tertekan untuk harus selalu belajar dan mereka menikmati hidup mereka. Saya pernah membaca bahwa anak-anak jaman sekarang kekurangan waktu bermain, saya rasa, saya ingin memberikan waktu bermain yang cukup bagi anak-anak saya.

 

Kami tetap memiliki waktu yang kami gunakan untuk mengerjakan latihan-latihan tertulis, tapi ketika sore tiba atau jika hari itu tidak memungkinkan untuk proses pembelajaran formal, kami menjalankan unschooling. Saya bersyukur suami saya mendukung homeschooling dan kami berdua dapat menjalankannya dengan baik. Apakah saya puas? Ya dan tidak. Tentu saya masih ingin memperbaiki beberapa hal dalam proses pelaksanaan homeschooling kami, tapi ya, saya puas dapat menjalankan homeschooling selama ini. Dulu saya hanya bisa merencanakannya, namun sekarang saya telah menjalani homeschooling di Indonesia. Semuanya tidak seindah yang terlihat. Ada banyak tangisan dan rasa bersalah ataupun ketidak yakinan, tapi kami tetap maju terus. Waktu tidak akan menunggu kita, kita yang harus dapat berjalan sesuai kecepatan waktu. Dan yang terutama adalah untuk menikmatinya dan belajar selagi kita menjalani apapun yang kita telah pilih dalam hidup kita.

 

Keputusan untuk meng-homeschool anak-anak kami berawal sejak saya hamil anak pertama. Pada waktu itu, homeschooling hanyalah sebuah kemungkinan pilihan edukasi anak-anak kami. Berawal dari situ, saya menemukan beberapa buku mengenai homeschooling di Indonesia. Didukung dengan berbagai sumber dari luar negeri juga seperti real life series keluarga Duggars, blog-blog dan banyak vlog-vlog homeschoolers di AS, saya semakin yakin menjalankan homeschooling sesuai dengan kemampuan, keadaan dan pilihan bagaimana kami bisa dan ingin menjalankan homeschooling.

 

Awalnya memulai homeschooling dengan penuh tanda tanya dan ketidak pastian. Belum lagi tanggapan yang kurang mendukung dari pihak keluarga besar kami, kami bersyukur anak pertama kami lahir di bulan Desember dimana umurnya masih setahun lebih cepat untuk memulai sekolah. Kami sengaja mempercepat sekolah TKnya, bisa dibilang sebagai jaring pengaman, jika dalam tahun pertama perjalanan homeschool kami gagal, kami masih dapat memasukkannya ke sekolah normal tanpa ketinggalan.

 

Adapun yang saya rindukan adalah untuk mendapatkan komunitas sesama homeschoolers di daerah kami. Awal kami menjalankan homeschool saya ketahui bahwa jika saya tidak memilih dan membeli kurikulum tertentu saya tidak bisa memiliki komunitas ataupun mengikuti pertemuan-pertemuan bersama mereka yang menjalankan kurikulum tertentu. Hal ini berubah dengan seiringnya waktu, tapi mungkin karena dari awalnya saya harus menjalankan homeschool mandiri, hingga sekarang saya belum tergabung di komunitas apapun. Sebetulnya saya merindukan co-op dimana jika di AS mereka dapat saling menitipkan anak atau bertukar pelajaran. Misalnya saya bisa mengajarkan pelajaran tertentu dan anak-anak saya bisa belajar hal lain dari keluarga lain. Sesuatu skill yang mungkin tidak dikuasai dengan baik oleh kami, demikian juga sebaliknya. Atau paling tidak anak-anak dapat berkumpul bersama dan bermain, ajang sosialisasi mereka. Tapi berhubung pelaku homeschool masih sangat sedikit di Indonesia dan letak mereka saling berjauhan, maka agak sulit untuk memiliki co-op disini. Belum lagi perbedaan pendapat dan prinsip dalam homeschooling belum tentu cocok antara satu keluarga dan keluarga lain. Sempat terpikir untuk membuat komunitas baru, tapi perlu banyak waktu mengurusnya dan mungkin saja suatu hari nanti saya dapat memulai komunitas tersebut.

 

Sekian dulu blog kali ini, lebih baik saya tidak tunda lebih lama lagi untuk mempublishnya.

Terima kasih, sampai berjumpa lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *