Homeschooling di Indonesia

This blog is in Bahasa Indonesia, you may try to read it using google translate, but I am not sure how it will come out. Let me know in the comment below if you are interested to read it in English. Thanks!

 

Sudah beberapa lama saya berpikir tentang blog saya, apakah mau dibuat dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Akhirnya saya mulai dengan Bahasa Inggris, lalu coba di-translate menggunakan google translate. Wah…ternyata amburadul. Hahaha…. Jadi saya berpikir untuk menterjemahkan blog saya sendiri. Dan juga membuat beberapa blog khusus yang berbahasa Indonesia yang diperuntukkan untuk pembaca yang berbahasa Indonesia.

 

Hari ini saya mau membicarakan tentang Homeschooling di Indonesia. Teringat beberapa hari yang lalu sepertinya untuk kesekian kalinya saya menjelaskan tentang homeschooling yang sudah saya jalani selama 4 tahun. Tak terasa, dari yang awalnya saya bicarakan dengan suami, dia langsung menyambutnya dengan positif. Lalu mulai saya cari tau lebih lanjut tentang homeschooling di Indonesia. Dalam waktu beberapa tahun saya mulai mengumpulkan buku-buku mengenai homeschooling. Diantaranya:

Buku pertama yang saya beli tentang homeschooling. Oktober 2007

Buku pertama yang saya beli tentang homeschooling. Oktober 2007

Maret 2009

Maret 2009

Maret 2009

Maret 2009

Buku yang sangat membantu saya dalam menjalankan homeschooling

Buku yang sangat membantu saya dalam menjalankan homeschooling

Dari buku-buku tersebut yang sudah langka, alias sekarang tidak bisa ditemukan lagi di toko buku, saya menjadi lebih percaya diri untuk melangkah menjalankan homeschooling. Ada 2 lagi buku pinjaman teman yang sangat bagus juga Better Late Than Early oleh Raymond S.Moore and Dorothy N. Moore dan I saw the Angel in the Marble oleh Chris and Ellyn Davis. Itulah awal perjalanan homeschooling kami. Menelusuri lebih jauh kebelakang, kami sebagai orang tua yang dua-duanya pernah mengajar murid sekolah, telah melihat betapa sekolah membuat anak-anak dan orang tua stress. Hal itulah yang membuat kami semakin berniat menjalankan homeschooling. Sebetulnya ada banyak sekali alasan, dukungan dan situasi yang memungkinkan kami menjalankan homeschooling. Begitu banyak saya bingung mau mulai dari mana. Tapi mari saya coba jelaskan pelan-pelan secara kronologis.

 

Saya memulai karir di dunia kerja sebagai guru. Awalnya sebagai asisten guru menari, lanjut sebagai guru dan pemegang kepala cabang sekolah tari tersebut. Hal ini saya jalani sejak awal SMA hingga tahun pertama saya kuliah. Sejak tahun kedua kuliah saya mulai mengajar Bahasa Inggris. Hal ini berlanjut hingga 1 tahun setelah kelulusan saya. Jadi total pengalaman mengajar saya kira-kira 8 tahun. Ketika saya mengajar Bahasa Inggris saya sempat mengajar di beberapa sekolah Katholik dan kursus-kursus. Disitu sempat ada pengalaman dimana saya melihat ada anak yang bermasalah, dia selalu mencari perhatian dengan mengganggu jalannya kelas dan meskipun sudah dihukum, baginya hukuman tersebut dianggap enteng. Suatu kali saya bertanya padanya, “Kamu di rumah sama siapa?”. “Sama mbak.” “Orang tua kamu dua-duanya kerja?”, “Iya” jawabnya. Disitulah sepertinya awal saya mulai bertekad jika suatu hari nanti saya memiliki anak sendiri, saya mau bisa menjaga dan mengurus mereka sendiri. Awalnya sepertinya hanya itu, tapi berlanjut saya mendengar tentang homeschooling, saya coba bicarakan pada suami saya. Dia yang ketika jaman kuliahnya dulu pun pernah menghadapi murid-murid les sekolah yang pelajarannya memberatkan mereka pun langsung menyambutnya dengan baik. Kami pun membicarakan tentang buku-buku yang saya baca dan informasi mengenai homeschooling khususnya di Indonesia. Menurutnya pelajaran di Indonesia terlalu berat dan banyak yang tidak penting. Anak-anak terlalu dipaksakan untuk menghafal hal-hal yang tidak berguna, anak-anak harus belajar demi mendapatkan nilai tes yang baik. Tes menjadi tolak ukur kepintaran anak murid. Padahal pada dunia nyata kita bias melihat, bukan anak-anak yang lulus dengan nilai terbaik yang bekerja dengan baik atau memiliki penghidupan terbaik. Kami pun setuju bahwa kedekatan dengan orang tua sangat penting di masa anak-anak.

 

Selain dari buku-buku yang saya baca, kami pernah mengikuti sebuah seminar homeschooling pada bulan Februari 2011 di daerah Pejaten yang membuat kami semakin percaya diri. Disitu kami diingatkan kembali dan diyakinkan, jika kami menjalankan homeschooling, sistem kejar paket merupakan jala pengaman kami dan sistem penyetaraan dengan sekolah formal lainnya. Jadi, jika kami menjalankan homeschooling, kami bisa mengikutkan anak kami paket A (untuk kelulusan SD), paket B (untuk kelulusan SMP) dan paket C (untuk kelulusan SMA). Pada waktu itu kami belum memulai homeschooling. Tapi dengan semakin percaya diri, kami menjalankan sesuai kehendak kami yaitu masa taman kanak-kanak kami sekolahkan secara formal dan masa SD kami menjalankan homeschooling dan selanjutnya untuk SMP dan SMA kami berencana melanjutkan sekolah formal. Beginilah rencana awal kami dan sejauh ini kami sedang menjalankan tahun ke-4 kami. Dalam beberapa tahun lagi kami harus memutuskan apakah akan sesuai dengan rencana awal kami ataukah akan berubah. Sementara ini, kami tidak perlu memusingkannya. Jika waktunya tiba, kami harus memutuskan, biarlah pada waktu tersebut kami memutuskannya.

 

Keputusan kami menjalankan homeschooling tidak berjalan mulus ketika kami mulai membicarakannya pada keluarga besar kami. Ada yang menanggapnya secara positif tapi banyak juga yang skeptis. Kami tau bahwa pendapat skeptis mereka semua didasarkan karena rasa sayang, tapi kami pun menjalankan keputusan kami dengan berdasarkan keadaan kami juga. Kami bersyukur karena saya sebagai ibu rumah tangga dapat full time ada di rumah. Suami saya pun memiliki pekerjaan yang dapat dikerjakan atau dipantau dari rumah. Ada saatnya ketika saya sudah menyerah dengan keadaan belajar anak-anak, suami saya dapat terlibat lebih dalam proses pembelajaran. Ketika saya menceritakan pada teman-teman saya, hampir semua teman-teman mendukung saya. Banyak dari mereka ingin dapat meng-homeschool anak-anak mereka juga, tapi banyak yang merasa tidak sanggup, ragu atau pasangan mereka tidak menyetujuinya. Jika pasangan tidak menyetujui, maka akan lebih sulit menjalankan homeschooling. Keputusan keluarga baiklah jika dijalankan atas persetujuan kedua orang tua.

 

Jika saya ingat-ingat masa awal saya memulai homeschooling, saya baru melahirkan anak ke-3. Sungguh tidak disangka dan diluar rencana kami. Tapi apa boleh buat, kamipun tetap menjalankan sesuai rencana awal kami. Dengan tidak terlalu memaksakan diri, saya dapat memulai homeschooling anak pertama saya sambil mengurus bayi yang baru lahir. Sungguh memusingkan, tapi Puji Tuhan semuanya berjalan dengan baik. Secara akademis anak pertama saya mungkin terlambat, tapi dia sendiri memang usianya masih 1 tahun lebih mudah dari usia sekolahnya. Setelah 3 tahun, masuk tahun ke-4 saya mulai meng-homeschool 2 anak. Jujur saya berasa mulai kelabakkan, anak ke-3 saya sudah 3 tahun dan mulai banyak mencari perhatian. Sehingga pada saat-saat seperti ini saya banyak meminta bantuan suami untuk mengurus anak ke-3 kami agar saya dapat fokus mengajar kedua anak kami. Mengajar 2 anak dengan tingkat yang berbeda saja sudah menjadi tantangan, apalagi dengan adanya anak ke-3 yang menuntut perhatian lebih, kadang-kadang anakpun sedang tidak dalam mood ingin belajar dan ingin bermain bersama adiknya. Ada saat dimana akhirnya pembelajaran yang harus tertunda. Tapi apakah itu membahayakan? Menurut kami tidak, waktu kami bersama dan jalinan hubungan kami lebih penting daripada kurikulum sekolah.

 

Mengenai kurikulum sekolah. Kami merasa kurang sreg dengan kurikulum, karena kurikulum dibuat secara umum untuk semua anak. Memang kurikulum dapat menjadi arahan atau langkah-langkah proses belajar anak, tapi jika kita kaku mengikutinya, maka stress juga yang kita dapatkan. Kami tetap menggunakan buku pelajaran, dalam hal ini saya memilih buku pelajaran yang banyak dipakai di sekolah-sekolah Internasional, My Pals, yang sekarang ini memiliki 2 versi. Versi Singapura dan versi Internasional. Saya memilih versi Singapura karena latar belakang dan budaya yang serupa dengan Indonesia. Sebetulnya ada banyak pertimbangan tentunya dan pro kontra, tetapi tidak akan ada selesainya jika segala sesuatu dipikirkan terus pro kontranya. Kebebasan dari homeschooling adalah saya dapat memilih dan menentukan sendiri buku-buku apa yang mau saya ajarkan pada anak-anak saya. Saya memilih Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dengan harapan Bahasa Indonesia dapat mereka pelajari dengan orang lain disekitar. Tapi sebenarnya yang terjadi adalah mereka sangat terbiasa berbahasa Inggris sehingga Bahasa Indonesia mereka menjadi kurang terlatih. Tapi memang fokus di satu Bahasa dulu lebih baik daripada memaksakan dua Bahasa sekaligus. Saya memulai dengan Bahasa Inggris, memasuki kelas 3 saya mulai perbanyak Bahasa Indonesia. Pada awalnya anak saya menolak, tapi lama kelamaan dia mulai terbiasa dan semakin baik Bahasa Indonesia-nya. Sekarang ini saya mulai mau memasukkan Bahasa Mandarin juga, tapi berhubung tidak terlalu fasih dan pelajaran lain yang keteteran, saya mengesampingkannya dahulu. Inilah kebebasan homeschooling yang kami rasakan banyak manfaatnya. Kami dapat menyesuaikan pembelajaran dengan tingkat stress lebih rendah dan tidak dikejar-kejar kurikulum.

 

Selain buku My Pals, saya juga menggunakan hampir buku apa saja yang tersedia. Karena kami memiliki banyak keponakkan yang banyak memiliki buku bekas yang masih layak pakai, saya banyak pergunakan sebagai sumber buku pelajaran anak-anak saya. Menurut saya, belajar bisa dari mana saja, tidak harus buku A atau B atau C. Saya selalu mencoba memperkenalkan bermacam-macam buku yang tentunya sesuai dengan perkembangan anak. Karena saya mengajar langsung sendiri, saya juga jadi tau seberapa kemampuan anak saya. Sering kali saya juga mengkhususkan pemilihan buku untuk anak-anak saya. Misalnya saya ingin mereka belajar Bahasa Indonesia, maka saya mencari buku-buku cerita berbahasa Indonesia. Dengan membaca buku cerita anak-anak menjadi lebih mudah mempelajari Bahasa. Mereka secara tidak langsung dan tidak sadar mempelajari bahasa tersebut.

 

Dalam menjalani homeschooling saya terinspirasi dengan ibu-ibu di AS yang menjalankan homeschooling. Mereka memiliki banyak anak, umumnya lebih dari 5 dan dapat mengajar anak-anaknya sendiri, bahkan ada yang masih menggunakan full make up! Buat saya, itu luar biasa! Memang kebanyakkan tinggalnya dipedesaan, tapi mereka benar-benar menjadi inspirasi dan saat saya merasa tidak bisa melakukannya, saya bisa ‘melihat’ pada mereka.

 

Saya akan lanjutkan blog saya mengenai homeschooling vs unschooling. Terima kasih, sampai berjumpa lagi!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *